Have a cause Donate Now

Kanonisasi JPII Ke Visitasi Lansia Bina Bhakti

Dari Kanonisasi JPII ke Visitasi Lansia

Kanonisasi JPII Ke Visitasi Lansia Bina Bhakti

Roma, April 2014 – Sekelompok kecil Friends of John Paul II (JPII) Foundation Indonesia, diwakili 16 pejiarah, seorang uskup, dua orang imam dan 13 umat awam [6 di antaranya OMK], menjadi saksi hidup kanonisasi 2 paus oleh ‘dua paus’ [Paus Fransiskus dan disaksikan Paus Emeritus Benediktus XVI]. Kelompok pejiarah ini, bukan hanya menjadi ‘saksi hidup’ karena kehadiran atau karena kamera tetapi ‘saksi hidup’ yang ikut disentuh dan disapa untuk ikut menjadi ‘orang kudus’ bersama sang paus yang baik dan sang paus yang agung. Apa yang disaksikan, apa yang dilihat, apa yang dialami mengundang ybs merayakan panggilan hidup yang penuh dan berlimpah.

 

Antrean padat merayap tapi damai permai

Meninggalkan hotel pada pukul 05.30, kami berharap masih bisa menjadi pengunjung pertama di Minggu pagi pesta kerahiman ilahi itu. Ternyata, mobil tak bisa merapat ke kompleks Vatikan sebab pejiarah sudah menyemut, padat, nyaris tak bergerak. Dengan tabah, selangkah demi selangkah mengisi celah maju yang ada, akhirnya bisa mencapai kursi-kursi di jajaran depan. Mgr Mandagi berujar : bukan main, ada ratusan ribu orang, tetapi tidak terdengar teriakan protes atau pertengkaran! Sementara yang lain berupaya maju, yang lain duduk tenang berdoa dan bernyanyi.

Ternyata sudah sejak semalam, seiring terbukanya semua pintu-pintu gereja/kapela/biara di kota Roma untuk upacara doa vigili kanonisasi, para pejiarah sudah ber’kemah’ di lapangan St Petrus dan sekitarnya, menggelar tikar, beratapkan payung. Sejak sore dan malam, para relawan, di mana-mana, dengan apik dan lancar menawarkan air minum; dan ketika malam sampai pagi menjelang, tersajikanlah kopi panas ‘self service’ di pelbagai terminal dan pojok lapangan. Para anggota ‘pramuka’ dengan sigap, ramah dan senyum melayani kebutuhan dan kelancaran pejiarah di samping para polisi dan petugas keamanan. Inilah yang membuat antrean padat merayap, serta pagi dingin menusuk, membuat suasana damai permai.

 

Alampun turut bersuka

Menjelang jam 10.00, langit Vatikan nampak tak bersahabat, mendung tebal, awan berat tak bergerak, sungguh siap mencurahkan hujannya. Bahkan ketika prosesi para kardinal dimulai, gerimis sudah merata; di mana-mana payung, topi, bahkan mantol hujan mulai dikenakan. Seorang teman serius bergumam : jangan takut, tak mungkin ke dua paus membiarkan kita diguyur hujan. Sementara itu, Paus Fransiskus sebagai pemimpin utama ekaristi kanonisasi 2 paus ini, sudah mencium dan mendupai altar dan rintik-rintik seolah ikut merecikkan hujan berkat. Sampai ketika, kardinal kepala kongregasi untuk santo-santa menyampaikan agar Paus Fransiskus berkenan menerima paus Yohanes 23 dan paus Yohanes Paulus 2 dalam kalangan para kudus, dan Paus Fransiskus menyatakan ‘menerima’, gemuruh tepuk tangan dan sorak sukacita menggema di seluruh lapangan St Petrus. Dan pada saat itu juga, rintik-rintik hujan berhenti dan awan hitam yang menggelantung di langit Vatikan, seolah menjadi beku, diam di tempat, memayungi 800 ribu orang yang berjejal di lapangan itu, tanpa ditimpa terik mentari. Bahkan langit menjadi cerah ceria, tanpa sinar mentari menusuk mengganggu.  Hujan baru mengguyur kota Roma pada sore hari, ketika semua upacara resmi telah usai dan pada saat kelompok-kelompok pejiarah terakhir meninggalkan lapangan St Petrus.

 

Duniapun turut bersuka

‘Seluruh dunia bersuka’, kata Mgr. Wesoly, mantan ketua John Paul II Foundation, sebab ke dua orang kudus ini menjadi teladan dan inspirasi bagi gereja universal. Buktinya, segala penjuru dunia menghadiri kanonisasi mereka, 150 kardinal, 700 uskup dan ribuan imam serta jutaan pejiarah. Semua toko dan hotel sekitar Vatikan mendapat keuntungan 4 kali lipat.

Sukacita dunia ini tidak dirayakan dengan pesta pora tetapi dengan doa, hening serta lagu-lagu gembira. Sukacita besar ini diresapkan dalam hati, lewat keheningan sesudah homili Paus Fransiskus. 800 ribu umat di lapangan St Petrus, hanyut dalam teduh hening, doa batin dan refleksi pribadi, tanpa sedesis bisikan. Begitu pula, saat teduh sesudah komuni kudus, betapa terasa the power of silence. Satu iman, satu hati, satu syukur atas kekudusan, satu panggilan atas kekudusan, dalam satu hening, satu doa batin. Keheningan ini mengundang orang berbicara dengan Tuhan dan juga dengan nurani kristianinya masing-masing. Keheningan 800 ribu orang ini adalah sebuah jawaban terhadap panggilan menjadi ‘baik dan agung’ dalam hidup kristiani.

 

Dari kanonisasi ber-visitasi ke Panti Jompo Bina Bhakti Tangerang

Tangerang, 25 Mei 2014 – Dalam homilinya Paus Fransiskus menggaris bawahi keberanian ke dua paus untuk tidak malu mengakui, mengenal dan akrab dengan luka atau dada berlubang Yesus karena cinta.  Paus Yohanes Paulus II sangat menghormati dan mengargai harkat martabat manusia, khususnya yang kecil, lemah, terabaikan. Paus juga tidak menolak kenyataan ketika harus menjadi paus ‘jompo’ yag setia yang sabar, kendati makin terbatas secara fisik. Inilah juga yang mendorong Friends of John Paul II Foundation Indonesia, untuk mensyukuri kanonisasi St Yohanes Paulus II, dengan kunjungan karitatif, dipuncakkan pada doa dan ekaristi bersama para jompo di panti Bina Bhakti Tangerang. Dalam bhakti kasih ini, para anggota melanjutkan semangat sang santo untuk memihak, memperhatikan mereka yang lemah di usia lanjut mereka. Visitasi ini adalah juga realisasi keberanian hati untuk berbagi kasih dengan mereka yang lanjut usia.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan, ‘mengapa engkau mau dipanggil Holy Father, padahal engkau adalah manusia biasa seperti kami’, Paus Yohanes Paulus II menjawab : ‘jangan takut dipanggil suci, sebab kesucian adalah panggilan kita’. Ya, kanonisasinya ini menjadi bukti bahwa kita semua jangan takut hidup suci, jangan takut bertindak suci; itulah buah terindah dari kanonisasi historis dan mungkin hanya sekali dalam sejarah.

 

Written by: Pastor Terry Ponomban, MSC

 

No comments yet

Post a comment